<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nellawati's Weblog</title>
	<atom:link href="http://nellawati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nellawati.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Aug 2007 12:12:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nellawati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nellawati's Weblog</title>
		<link>http://nellawati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nellawati.wordpress.com/osd.xml" title="Nellawati&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nellawati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dimana Esensi Kemerdekaan?</title>
		<link>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/09/dimana-esensi-kemerdekaan/</link>
		<comments>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/09/dimana-esensi-kemerdekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Aug 2007 12:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nellawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nellawati.wordpress.com/2007/08/09/dimana-esensi-kemerdekaan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nellawati* Dimana-mana nuansa merah putih makin terasa. Wajar, sebentar lagi bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-57. Berbagai acara juga dipersiapkan untuk menyambut momen bersejarah ini. Ada jalan santai, lomba nyanyi, panjat pinang, audisi penyiar atau da’i cilik dan games-games lain. Namun, tidakkah ini seperti memutar lagu lama? Sebuah rutinitas bersifat simbolik yang senantiasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=5&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: <strong>Nellawati</strong>*</p>
<p>Dimana-mana nuansa merah putih makin terasa. Wajar, sebentar lagi bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-57. Berbagai acara juga dipersiapkan untuk menyambut momen bersejarah ini. Ada jalan santai, lomba nyanyi, panjat pinang, audisi penyiar atau da’i cilik dan games-games lain. Namun, tidakkah ini seperti memutar lagu lama? Sebuah rutinitas bersifat simbolik yang senantiasa berulang tiap tahunnya.<br />
 </p>
<p><span id="more-5"></span>Bangsa ini sejatinya terluka. Meski sudah merdeka dari penjajahan secara fisik, namun hampir di semua aspek kehidupan kita masih terjajah. Secara ekonomi, terjebak ketergantungan pada negara-negara kapitalis Barat. Yang paling mencolok, utang luar negeri yang terus bertambah dan menjadi beban yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.<br />
 <br />
Kemiskinan, busung lapar dan gizi buruk terjadi di mana-mana. Rakyat masih terbelenggu kebodohan sistematis. Lihat, pembunuhan, penganiayaan, penculikan dan kriminalitas lain menjadi menu harian rakyat Indonesia. Bahkan tidak aman dari penguasa mereka. Penggusuran demi pembangunan, penggusuran pedagang kaki lima atas nama penertiban, kutipan atau kewajiban suap di sana-sini untuk berbagai urusan.<br />
 <br />
Secara budaya kita membebek pada Barat. Tak peduli apakah berdampak  buruk pada mental dan mengancam moral. Kita tak percaya diri kalau belum sesuai tren yang berasal dari Barat. Dan masih banyak lagi keterpurukan kita. Lalu, dimana esensi kemerdekaan itu?Merdeka adalah bebas dari cengkeraman atau bangsa lain. Kita berhak menentukan kebijakan tanpa tekanan pihak lain. Kebijakan negeri ini masih dipengaruhi asing baik langsung maupun tidak. Salah satu contoh di bidang pendidikan. Kualitas pendidikan Indonesia termasuk rendah karena tidak termasuk dalam 500 World Top Universities atau 200 Asian Top Universities. Yang menentukan standar tersebut adalah Barat. Kemudian diberikan solusi bagi Indonesia yakni menerapkan program BHMN dan sertifikasi guru dan dosen. Lagi-lagi, standar penilaian dan solusi datangnya dari Barat.</p>
<p>Bangsa Indonesia tak bisa berbuat banyak karena telah ketergantungan luar biasa. Dari sisi bantuan ekonomi dan juga pemikiran. Kita telah berpikir sebagaimana cara Barat berpikir. Kita tak mampu mengenal karakter masyarakat dan menyelami apa kebutuhan mereka sesungguhnya. Solusi permasalahan kadang tak seperti yang diharapkan rakyat. Semua karena kita masih memakai sistem yang berasal dari penjajah, yaitu kapitalisme.  Sehingga, apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan akan sejalan dengan kepentingan Barat. Inilah kita!<br />
Merdeka Untuk Selamanya<br />
 <br />
Di alam ini telah diciptakan aturan hidup. Tinggal kita memilih tunduk pada aturan Allah SWT atau aturan manusia yang lemah. Kemerdekaan sejati adalah bebas dari penghambaan terhadap manusia. Konsekuensi pilihan, terikat pada aturan Dzat yang maha kuasa. Namun, keterikatan ini sangat indah dan menenteramkan jiwa.<br />
 <br />
Syariat Islam memang mengatur seluruh hubungan manusia. Manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan dirinya sendiri. Syariat Islam tak terbatas pada ibadah ritual tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Apabila diterapkan secara sempurna maka akan membawa pada rahmat. Bila ada pelanggaran hak manusia, akan ada sanksi yang semua orang muslim maupun non muslim merasa adil. Standar perbuatan setiap orang akan sama yakni dikembalikan pada syariat Islam. Tidak repot seperti sekarang, mendefinisikan pornografi saja bingung.<br />
 <br />
Jadi, kunci agar kita benar-benar mampu melepaskan diri dari penjajahan adalah melepaskan diri dari sistem kapitalis di segala bidang dan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. Bukan hal yang gampang memang. Perlu upaya serius dan sinergis antara individu rakyat, masyarakat dan negara yang memahami visi kemerdekaan.<br />
 <br />
Apa yang sudah kita lakukan, kawan-kawan? Semoga tidak lagi asyik memikirkan lomba balap karung saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berjuang melepaskan diri dari keterjajahan ini. Mari bangkitkan pemikiran dan perasaan, berinteraksi tanpa kekerasan, bulatkan tekad untuk merdeka selamanya. Kita terasa kecil kalau sendiri, maka bersama-sama tentu akan lebih baik.</p>
<p>Merdeka!</p>
<p>*Mahasiswa FKIP UNLAM (EWA’Mco)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nellawati.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nellawati.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nellawati.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nellawati.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=5&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/09/dimana-esensi-kemerdekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60200c2e97e9e84b0350ea0b78d94d87?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nellawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyoal Mama Mia</title>
		<link>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/menyoal-mama-mia/</link>
		<comments>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/menyoal-mama-mia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Aug 2007 16:45:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nellawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/menyoal-mama-mia/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nellawati* Mama Mia, program reality show Indosiar, menempati rating tertingi program favorit di TV. Yang lebih mengejutkan, tayangan ini mampu menyalip program RCTI, Indonesian Idol. Mama Mia juga diharapkan bisa menjadi jalan pembuka atau batu loncatan menapak karir yang lebih tinggi. Ada sedikit warna berbeda dibanding ajang pencarian bakat yang lain. Mama Mia diperuntukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=4&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: <strong>Nellawati</strong>*</p>
<p>Mama Mia, program reality show Indosiar, menempati rating tertingi program favorit di TV. Yang lebih mengejutkan, tayangan ini mampu menyalip program RCTI, Indonesian Idol. Mama Mia juga diharapkan bisa menjadi jalan pembuka atau batu loncatan menapak karir yang lebih tinggi.</p>
<p><span id="more-4"></span>Ada sedikit warna berbeda dibanding ajang pencarian bakat yang lain. Mama Mia diperuntukkan hanya untuk cewek. Khususnya pasangan mama dan putrinya. Mama dan anak seiya sekata, satu hati satu tujuan. Di sini mama dan anak saling bekerjasama meraih sukses. Jika berhasil, bukankah itu sebuah prestasi.</p>
<p>Dibalik Mama Mia<br />
Ajang ini bertujuan mencari orang-orang yang punya talenta di bidang menyanyi. Ternyata, mereka tak hanya dinilai dari kualitas suara, tetapi juga fesyen dan penampilan. Fesyen yang membuka sedikit atau banyak aurat, tak menjadi masalah asalkan masih terkategori ‘sopan’ menurut mereka. Penampilan yang berlebihan (apalagi dalam Mama Mia Super Dut) melibatkan gerak bebas tubuh si penyanyi. Kemudian terjadi campur baur dengan lawan jenis di luar perkara yang dibenarkan syara (pendidikan, kesehatan, muamalah, perwalian dan persaksian). Konon, ini aplikasi dari kebebasan berekspresi.</p>
<p>Di sini kita bisa melihat banyaknya aturan Islam yang terabaikan dan upaya penanaman benih-benih liberalisasi pada pemikiran masyarakat, khususnya kaum muslimin. Kita diajak untuk memisahkan zona agama dari aturan kehidupan. Kemudian menempatkan agama sebagai ibadah ritual semata. Padahal Islam memiliki aturan hidup yang lengkap dan solutif untuk  seluruh alam.</p>
<p>Dampak liberalisasi, khususnya yang menimpa keluarga, lebih parah lagi. Perempuan diajak untuk beramai-ramai ke luar rumah mengejar prestasi. Dalam kasus Mama Mia, mama dan anak kompak sekali. Sadarkah mereka, apa yang mereka lakukan sudah sangat jauh dari apa yang seharusnya mereka lakukan?</p>
<p>Prestasi Muslimah<br />
Dalam keluarga, peran perempuan yakni sebagai anak dan ibu atau istri. Sebagai anak, ada tuntutan untuk berbakti pada orang tua setelah taat pada Allah dan RasulNya. Setiap anak yang menginginkan ridha Allah SWT mesti menaati orang tua selama tidak mengajak pada kemaksiatan. Sementara sebagai istri atau ibu bagi anak-anak, wajib taat pada suami sebagai pemimpin keluarga. Sebaliknya suami pun harus baik terhadap istri.</p>
<p>Allah SWT menyeru kepada para wanita untuk menciptakan ketenangan dalam rumahnya. Seorang ibu memelihara, mendidik dan mendampingi anak dalam masa perkembangannya. Inilah peran mulia seorang ibu. Terdengar berat mungkin, namun insya Allah nilainya sangat mulia di sisi Allah SWT.<br />
“Tidak ada seorang anak pun yang baru lahir dalam keadaan suci. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi,”(HR. Muslim).</p>
<p>Baik buruknya keadaan rumah tangga tergantung baik tidaknya muslimah menyelesaikan tugas sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Ibu mendidik anak, menanamkan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang baik. Ibu juga menjadi teladan langsung yang menunjukkan keberpengaruhannya. Subhanallah, tanpa menafikan peran ayah yang juga luar biasa, ibu yang bertanggung jawab mampu mencetak anak-anak yang baik dimana kebaikannya kan kembali kepada orang tua dan masyarakat.</p>
<p>Tugas perempuan di rumah tangga tak berarti membatasi aktifitasnya. Islam memperbolehkan perempuan bermuamalah di masyarakat seperti bekerja, dan lain-lain. Syaratnya, aktifitas di sektor publik tidak bertentangan dengan syariat dan tidak melalaikan tugas utamanya di rumah tangga. Bahkan perempuan juga diwajibkan untuk melakukan aktifitas amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) dan menuntut ilmu.</p>
<p>Demikianlah peran penting perempuan sebagai tiang negara. Ia menjadi guru pertama dan utama bagi generasi cerdas, pencipta peradaban, pembela umat dan para problem solver. Inilah prestasi muslimah sesungguhnya.</p>
<p>Penghancuran institusi keluarga dengan cara perlahan-lahan adalah langkah jitu menjajah umat Islam. Racun ini dikemas dengan indah. Hendaklah kita sadar. Bahaya ini bukan Cuma bagi pribadi, tapi keluarga, masyarakat dan Negara. Liberalisasi hanya akan berujung pada kehancuran generasi.</p>
<p>Perlu upaya serius dan sungguh-sungguh menyadarkan kaum muslimin yang telah termakan ide liberal. Langkah yang bisa kita lakukan adalah merubah cara berpikir masyarakat agar tak mudah tersusupi nilai-nilai yang menyesatkan dengan dakwah terus manerus. Kemudian membongkar kebobrokan pemikiran seperti sekulerisme, liberalisme dan pluralisme.<br />
Lalu, menjelaskan Islam sebagai solusi menyeluruh yang bisa dipakai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Juga mendorong untuk menjalankannya. Upaya ini tentu butuh kerjasama sinergis antara individu/keluarga, masyarakat dan negara.</p>
<p>*Mahasiswa FKIP UNLAM (EWA’MCo)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nellawati.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nellawati.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nellawati.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nellawati.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=4&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/menyoal-mama-mia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60200c2e97e9e84b0350ea0b78d94d87?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nellawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Wanita Karir</title>
		<link>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/tentang-wanita-karir/</link>
		<comments>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/tentang-wanita-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Aug 2007 16:42:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nellawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/tentang-wanita-karir/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nellawati* Pergulatan hidup di zaman kapitalis memaksa kaum wanita keluar dari sarangnya dan melepas tabir kodratnya. Ada yang memang yang terpaksa bekerja untuk menambah penghasilan keluarga atau malah menjadi tulang punggung keluarga, atau sekedar menunjukkan eksistensi. Yang terakhir memahami, bisa melakukan apa saja yang bisa lakukan pria. Dalihnya, kesetaraan gender. Wanita karir, bekerja fulltime, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=3&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh: <strong>Nellawati</strong>*</p>
<p>Pergulatan hidup di zaman kapitalis memaksa kaum wanita keluar dari sarangnya dan melepas tabir kodratnya. Ada yang memang yang terpaksa bekerja untuk menambah penghasilan keluarga atau malah menjadi tulang punggung keluarga, atau sekedar menunjukkan eksistensi. Yang terakhir memahami, bisa melakukan apa saja yang bisa lakukan pria. Dalihnya, kesetaraan gender.<br />
<span></span><br />
<span id="more-3"></span>Wanita karir, bekerja fulltime, tidak cuma di Indonesia tetapi merupakan fenomena global. Setidaknya, ada dua hal yang penting dicermati. Pertama, berkarir dilandasi kebutuhan menghidupi keluarga. Kedua, adanya isu gender yang dipropagandakan oleh kaum feminis. Menurut mereka, laki-laki dan perempuan setara dalam segala aspek kehidupan. Apabila laki-laki bisa menghasilkan uang, mengapa perempuan tidak? Perempuan bisa mandiri dan tidak perlu tergantung pada laki-laki. Laki-laki tak boleh semena-mena karena perempuan punya hak yang sama.</p>
<p>Sepintas upaya kesetaraan gender sukses membawa wanita pada martabat lebih tinggi. Peolehan materi, eksistensi, ketenaran sampai naiknya kedudukan dan status sosial. Namun, benarkah demikian adanya?</p>
<p>Hakikatnya, perempuan secara kodrati berperan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga sesuai dengan tabiat keperempuanannya. Perempuan diamanahi memikul tanggung jawab menjadi ibu yang akan hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Sekarang mesti ditambah dengan aktivitas yang harus dilakukan oleh mitra hidupnya, laki-laki, mencari nafkah. Ketika itu terjadi, tentunya akan ada amanah yang terlalaikan.</p>
<p>Perempuan adalah tiang negara. Apabila seorang perempuan sudah tak bisa me-manage keluarga, gagal dalam membentuk pola generasi kini dan akan datang, maka bisa dibayangkan kehancuran yang datang perlahan-lahan.</p>
<p>Fenomena wanita karir bukanlah sesuatu yang kebetulan. Jika kita telusuri lebih jauh, gejala di atas merupakan hasil rekayasa Barat yang menginginkan kehancuran peradaban Islam. Bagaimana tidak, dengan gagasan wanita karir, muslimah yang semestinya mencetak generasi-generasi emas, pemimpin masa depan dan para problem solver, malah sibuk dengan dunianya sendiri serta meninggalkan peran yang sesungguhnya. Anak-anak tidak terdidik dengan semestinya, rumah tidak terurus dengan baik, dan kemungkinan terburuk kehancuran institusi keluarga.</p>
<p>Islam telah mengatur peran muslimah di sektor domestik dan peran di sektor publik. Mempunyai tugas dan kewajibannya masing-masing. Sebagai manusia, punya hak dan kewajiban yang sama, yakni menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Perempuan bisa beraktivitas di luar rumah, namun dalam batas-batas yang digariskan syariat. Perempuan berhak dan wajib menuntut ilmu dan mengembangkan potensi dalam profesi yang ditekuninya. Namun, tetap tidak melupakan tugas utama sebagai ibu dan pengelola rumah tangga suaminya. Tak ada perbedaan antara keduanya kecuali dari sisi ketakwaannya.</p>
<p>Secara kodrati, memang ada pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan sesuai tabiat dan kekhasannya. Hal ini sejatinya tak bisa ditukar-tukar. Hendaknya ini justru membuat laki-laki dan perempuan saling melengkapi dan bersinergis. Pastinya klop sekali!<br />
Prestasi seorang muslimah dinilai dari sukses tidaknya ia menjalankan peran-peran yang telah ditentukan Allah SWT, bukan dari banyaknya materi atau status sosial di masyarakat.</p>
<p>*Mahasiswa FKIP UNLAM (EWA?MCo).</p>
<p><!-- .entry-content --></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nellawati.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nellawati.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nellawati.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nellawati.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=3&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/tentang-wanita-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60200c2e97e9e84b0350ea0b78d94d87?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nellawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/hello-world/</link>
		<comments>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Aug 2007 16:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nellawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=1&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nellawati.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nellawati.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nellawati.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nellawati.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nellawati.wordpress.com&amp;blog=1473051&amp;post=1&amp;subd=nellawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nellawati.wordpress.com/2007/08/05/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/60200c2e97e9e84b0350ea0b78d94d87?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">nellawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
