
Dimana Esensi Kemerdekaan?
August 9, 2007Oleh: Nellawati*
Dimana-mana nuansa merah putih makin terasa. Wajar, sebentar lagi bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-57. Berbagai acara juga dipersiapkan untuk menyambut momen bersejarah ini. Ada jalan santai, lomba nyanyi, panjat pinang, audisi penyiar atau da’i cilik dan games-games lain. Namun, tidakkah ini seperti memutar lagu lama? Sebuah rutinitas bersifat simbolik yang senantiasa berulang tiap tahunnya.
Bangsa ini sejatinya terluka. Meski sudah merdeka dari penjajahan secara fisik, namun hampir di semua aspek kehidupan kita masih terjajah. Secara ekonomi, terjebak ketergantungan pada negara-negara kapitalis Barat. Yang paling mencolok, utang luar negeri yang terus bertambah dan menjadi beban yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kemiskinan, busung lapar dan gizi buruk terjadi di mana-mana. Rakyat masih terbelenggu kebodohan sistematis. Lihat, pembunuhan, penganiayaan, penculikan dan kriminalitas lain menjadi menu harian rakyat Indonesia. Bahkan tidak aman dari penguasa mereka. Penggusuran demi pembangunan, penggusuran pedagang kaki lima atas nama penertiban, kutipan atau kewajiban suap di sana-sini untuk berbagai urusan.
Secara budaya kita membebek pada Barat. Tak peduli apakah berdampak buruk pada mental dan mengancam moral. Kita tak percaya diri kalau belum sesuai tren yang berasal dari Barat. Dan masih banyak lagi keterpurukan kita. Lalu, dimana esensi kemerdekaan itu?Merdeka adalah bebas dari cengkeraman atau bangsa lain. Kita berhak menentukan kebijakan tanpa tekanan pihak lain. Kebijakan negeri ini masih dipengaruhi asing baik langsung maupun tidak. Salah satu contoh di bidang pendidikan. Kualitas pendidikan Indonesia termasuk rendah karena tidak termasuk dalam 500 World Top Universities atau 200 Asian Top Universities. Yang menentukan standar tersebut adalah Barat. Kemudian diberikan solusi bagi Indonesia yakni menerapkan program BHMN dan sertifikasi guru dan dosen. Lagi-lagi, standar penilaian dan solusi datangnya dari Barat.
Bangsa Indonesia tak bisa berbuat banyak karena telah ketergantungan luar biasa. Dari sisi bantuan ekonomi dan juga pemikiran. Kita telah berpikir sebagaimana cara Barat berpikir. Kita tak mampu mengenal karakter masyarakat dan menyelami apa kebutuhan mereka sesungguhnya. Solusi permasalahan kadang tak seperti yang diharapkan rakyat. Semua karena kita masih memakai sistem yang berasal dari penjajah, yaitu kapitalisme. Sehingga, apa yang kita pikirkan dan yang kita lakukan akan sejalan dengan kepentingan Barat. Inilah kita!
Merdeka Untuk Selamanya
Di alam ini telah diciptakan aturan hidup. Tinggal kita memilih tunduk pada aturan Allah SWT atau aturan manusia yang lemah. Kemerdekaan sejati adalah bebas dari penghambaan terhadap manusia. Konsekuensi pilihan, terikat pada aturan Dzat yang maha kuasa. Namun, keterikatan ini sangat indah dan menenteramkan jiwa.
Syariat Islam memang mengatur seluruh hubungan manusia. Manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan dirinya sendiri. Syariat Islam tak terbatas pada ibadah ritual tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan. Apabila diterapkan secara sempurna maka akan membawa pada rahmat. Bila ada pelanggaran hak manusia, akan ada sanksi yang semua orang muslim maupun non muslim merasa adil. Standar perbuatan setiap orang akan sama yakni dikembalikan pada syariat Islam. Tidak repot seperti sekarang, mendefinisikan pornografi saja bingung.
Jadi, kunci agar kita benar-benar mampu melepaskan diri dari penjajahan adalah melepaskan diri dari sistem kapitalis di segala bidang dan menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. Bukan hal yang gampang memang. Perlu upaya serius dan sinergis antara individu rakyat, masyarakat dan negara yang memahami visi kemerdekaan.
Apa yang sudah kita lakukan, kawan-kawan? Semoga tidak lagi asyik memikirkan lomba balap karung saja. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk berjuang melepaskan diri dari keterjajahan ini. Mari bangkitkan pemikiran dan perasaan, berinteraksi tanpa kekerasan, bulatkan tekad untuk merdeka selamanya. Kita terasa kecil kalau sendiri, maka bersama-sama tentu akan lebih baik.
Merdeka!
*Mahasiswa FKIP UNLAM (EWA’Mco)


